Indonesia Sambut Positif Skema Asuransi Perubahan Iklim IMF

Foto: Mutia Ramadhani / Republika

 

Dana Moneter Internasional (IMF) berkomitmen membantu negara-negara anggota dalam mengatasi risiko perubahan iklim di kawasan paling terdampak. Managing Director and Chairwoman IMF, Christine Lagarde mengatakan pihaknya merespons hal tersebut dengan menyusun skema asuransi menghadapi risiko perubahan iklim yang telah dituangkan dalam World Economic Outlook IMF 2017.

Dijumpai dalam kegiatan penanaman terumbu karang bertajuk ‘IMF Giving Together’ di Pantai Sofitel, Nusa Dua, Bali, Ahad (7/10), wanita asal Prancis ini mengatakan ada hubungan antara perilaku manusia dengan bencana alam dan kerusakan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim yang terjadi saat ini. Beberapa tahun terakhir IMF fokus melakukan riset terkait dampak perubahan iklim terhadap makroekonomi.

“Tahun lalu kami telah mempublikasikannya dalam World Economic Outlook. Salah satu kesimpulannya tentang implikasi perubahan iklim terhadap banyak negara, khususnya negara-negara berpenghasilan rendah. Dalam kondisi ini, kami menyiapkan skema asuransi untuk negara-negara berisiko,” ujarnya, Ahad (7/10).

IMF berkomitmen terlibat dalam konservasi dan perlindungan terumbu karang Indonesia yang mencakup 60 persen wilayah segi tiga karang dunia. Pelestarian lingkungan, ujar Lagarde tak harus dimulai dari hal-hal besar, namun dari hal-hal kecil.

“Kami akan menanam 200 struktur koral (spider) di perairan Nusa Dua. Semoga bisa mengubah lingkungan kita menjadi lebih baik lagi, membuat orang-orang lebih peduli, dan ikut melindungi laut,” kata Lagarde.

Penanaman terumbu karang oleh peserta, khususnya delegasi IMF menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia (World Bank) di Bali, 8-14 September 2018. Turut hadir di lokasi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Luhut Binsar Panjaitan), Menteri Keuangan (Sri Mulyani Indrawati), dan Gubernur Bank Indonesia (Perry Warjiyo).

Sri Mulyani menyambut ide IMF tentang skema asuransi risiko perubahan iklim. Ia mencontohkan kawasan terumbu karang Indonesia yang mencakup 60 persen segi tiga karang dunia.

“Jika terumbu karang Indonesia rusak, itu berarti terumbu karang dunia juga rusak. Kita perlu berbagi rasa memelihara ini dengan dunia,” katanya.

Sosok Lagarde, sebut menteri yang juga mantan direktur di Bank Dunia ini bisa memberi contoh dan teladan bahwa lembaga berkompeten perlu lebih banyak memberi perlindungan dan asuransi terhadap kekayaan berharga dunia.

“Nanti kami akan coba diskusikan bentuk asuransi kekayaan berharga dunia dan bagaimana sharingnya,” ujar Sri Mulyani.

Perubahan iklim menjadi tantangan penting yang dihadapi para pembuat kebijakan ekonomi seluruh dunia. IMF memiliki kewajiban sebagai bagian dari komunitas dunia untuk mengatasi perubahan iklim dengan serangkaian analisis yang dilakukan.

Source :

republika

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


17 + thirteen =