Pabrik Milik Petani Diyakini Kerek Harga TBS Sawit

 

Petani sawit rakyat didorong bertransformasi dari menjual Tandan Buah Segar (TBS) sawit menjadi minyak sawit (CPO) dengan cara memiliki Pabrik Kelapa Sawit Rakyat (PKS-R). Dengan begitu daya tawar petani lebih tinggi dan meningkatkan penghasilan mereka.

Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) Darmono Taniwiryono mengatakan sejak awal berkembangannya perkebunan rakyat, petani selalu menjual produknya TBS sawit. Tradisi perdagangan ini sulit diubah karena kenyataannya petani tidak bisa mengolah buah sawit menjadi minyak nabati.

Darmono mengusulkan menjelang era industri 4.0, petani harus menjual crude palm oil (CPO) bukan lagi sekedae tandan buah segar (TBS) karena dalam database perdagangan sawit dunia, tidak ada harga TBS tetapi yang ada harga CPO.

“Solusinya petani perlu membangun PKS-R berkapasitas olah 500 kg TBS per jam dari 150 ha kebun. Investasi pabrik sawit rakyat sekitar Rp 2,3 milyar sudah termasuk fasilitas pengolahan limbah cair menjadi biogas yang dibakar,” katanya Jum’at (12/10/2018).

Walaupun banyak pihak yang meragukan pembangunan PKS-R oleh petani, tapi Darmono tetap optimistis. Syarat terwujudnya adalah petani harus berkelompok untuk memenuhi syarat luasan 150 hektar dan jumlah petani yang bergabung tidak harus terlalu banyak sehingga mudah berkoordinasi.

“Idealnya satu wilayah di mana terdapat 10 PKS-R perlu dibuat tangki timbun baik oleh swasta maupun oleh mereka sendiri,” katanya. Terkait kualitas minyak sawit, menurut Darmono, kualitas minyak sawit dari PKS-R yang berkapasitas 500 kilogram TBS per jam tidak akan berbeda dengan pabrik sawit besar.

Selain itu menurutnya, dengan menjual CPO petani lebih mudah berkomunikasi dengan dunia internasional di era Industri 4.0. “Dalam hal ini semua pihak harus bisa menerima dan mengikuti tuntutan jaman. Dan pemerintah perlu memfasilitasi itu,”jelasnya.

Ada sejumlah keuntungan apabila petani menjual CPO antara lain minyak sawit lebih tahan lama, mengatasi masalah TBS mentah, rendemen yang rendah, kelembagaan petani bisa dibangun lebih kuat, petani dapat menterjemahkan dengan mudah perkembangan pasar Internasional, dan terakhir membuat daya tawar petani meningkat.

Darmono menjelaskan buah sawit dipanen dari ribuan petani, dari jenis tanaman yang bervariasi dan tingkat kematangan buah tidak merata. Oleh sebab itu kualitas TBS dapat dipastikan sangat bervariasi. Akibatnya petani memiliki daya tawar yang rendah terhadap buah yang akan dijual. Dan selamanya akan demikian.

Dia menegaskan pembentukan kelembagaan perekatnya tidak kuat jika hanya untuk jual TBS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


thirteen − 1 =